Di Bali Banyak Cerita

| Kamis, 14 November 2013 - 10:48:17 WIB | dibaca: 24067 pembaca

              Akhir September yang lalu, saya dan teman-teman komunitas YRBK Kagem berkesempatan mengunjungi pulau Dewata yang sangat terkenal itu. Saya, Fata, Lulung, Mas Ega, Mas Ari, dan Bunda Ayik bertolak dari Yogyakarta Sabtu pagi sekitar pukul 07.30 WIB. Setelah kurang lebih perjalanan satu jam, rombongan kami tiba di Bali. Perlu diingat waktu di Bali satu jam lebih cepat dari Yogya. Ada cerita yang cukup menegangkan loh ketika di dalam pesawat. (nanti ya saya ceritakan)

            Berkunjungnya kami ke Pulau Dewata  bukan tanpa sebab, selain tujuan utama untuk liburan (meski bukan masa liburan) kami juga menjemput tim media yaitu Mas Bian dan Mbak Nisa juga teman dari ISI, Kemil yang selesai menjalankan tugas Negara di Bima. Ada satu kebanggan untuk kami karena kedatangan kami di Bali adalah hasil tabungan kami yang selama ini terkumpul di “Tabungan RelawanKagem” yeay

            Jadi gini, ada cerita yang cukup menegangkan, yaitu seorang Fata Nurhaliza yang tampak selalu ceria dan bersemangat, bisa nangis di pesawat !!!. Tapi tidak ada asap kalau tidak ada api dong ya. Kakak Fata ini menangis karena ternyata telinganya sakit dan tidak tahan dengan tekanan di ketinggian (kira-kira begitu). Tidak cukup sampai di situ saja, ketika ke dokter ternyata gendang telinganya bermasalah (“Insya Allah sekarang sudah baikan ya, Kak Fata”).

            Setibanya di pulau Bali kami langsung melanjutkan perjalanan ke objek wisata Tanah Lot, sebelumnya menjemput tim media dahulu.

Perjalanan ke Tanah Lot cukup lancar dan Alhamdulillah tidak terjebak macet. Saat berada di Tanah Lot kami berkesempatan merasakan sejuknya air tawar suci yang berada di antara air laut, dan berkeliling ke beberapa Pura yang ada di sana serta sempat main air juga.

            Kemudian kami melanjutkan ke pantai Kuta untuk menikmati sunset. Selama di perjalanan ke Kuta saya hanya tidur karena mabuk perjalanan. Ketika yang lain menikmati perjalanan dan banyak tahu tentang Bali saya sekuat tenaga menahan untuk tidak mabuk. Keberuntungan sedang tidak memihak kepada kami ternyata, karena sunset yang ditunggu-tunggu tertutup oleh mendung. Kami hanya menikmati sejuknya angin serta hangatnya pasir yang terasa dari sisa teriknya siang hari. Eh, bagi para pria mereka berkesempatan cuci  mata karena bertebaran bule-bule cantik yang berbusana pantai, hehe.

            Malam hari ketika teman-teman menikmati makan malam di luar, saya memilih untuk istirahat di rumah. Supaya esok harinya bias segar dan fit melanjutkan liburan.

            Hari kedua kami awali dengan aktifitas mengejar sunrise di pantai Sanur. Ternyata tidak berhasil juga karena cuaca mendung. Akhirnya kami muter-muter Bali sembari mencari sarapan. Oleh Bunda dan Pakde kami diajak sarapan di Lapangan yang biasa untuk olahraga masyarakat Bali (lupa namanya).

            Siang hari kami menuju Nusa Dua dan kami mencoba jalan tol Mandara di atas laut yang sangat keren. Bertolak dari Nusa Dua perjalanan dilanjutkan ke Pulau Penyu. Dengan menyewa sebuah boat kami menuju pulau Penyu. Ketika sampai di Pulau Penyu kami melihat dan mengenal lebih dekat mengenai spesies penyu yang dikembangbiakan di penangkaran penyu. Naaah momen pulang dari Pulau Penyu ke Nusa Dua ini yang membuat saya sehat seketika. Pak sopir boat keren sekali mengemudikan boat alias ngebut-ngebutan! (ngomong-ngomong jadi pengen bisa mengemudikan boat).

            Meninggalkan Nusa Dua dan Pulau Penyu, perjalanan dilanjutkan ke objek wisata Uluwatu di kabupaten Badung. Sampai di Uluwatu ini, kami menikmati wisata Bali yang berbeda dari sebelum-sebelumnya karena di sini terdapat Pura Luhur Uluwatu, yaitu pura terbesar dan menjadi rujukan masyarkat Bali dalam beribadah. Pura ini berada di ketinggian yang langsung berdampingan dengan laut. Kalau sebelum-sebelumnya kami bisa main air, di Uluwatu ini kami hanya bisa bermain dengan monyet yang berkeliaran bebas (Mas Ega sampai ditahan sama monyet-monyet untuk dicariin kutunya).

            Malam hari kami masih melanjutkan perjalanan dan kami memilih untuk main ke Mal Bali Galeria. Kata Pakde Farid, mal ini merupakan mal terbesar di Bali. Setelah puas main dan sempet nyoba mobil BMW (Kak Lulung yang masuk ke kabin mobil) yang dipamerkan di mal tersebut kami menuju pusat oleh-oleh Bali,  yaitu Krisna.

            Ya, di Krisna ini kami membeli oleh-oleh untuk buah tangan keluarga dan teman-teman di Yogyakarta. Berhubung kami ke Krisna ketika sudah malam, akhirnya kami terburu-buru untuk memilih oleh-oleh. Tapi yang penting Pie Susu dan Kacang Disko khas Bali terbeli.

            Hari terakhir nih di Bali sebelum besok subuh berpulang ke Yogyakarta. Hari terakhir ini kami mengunjungi Kintamani danUbud. Berbeda dengan dua hari sebelumnya ketika kami full berkeliaran bebas menikmati pantai, pura, dan Bali seisinya. Saat hari terakhir, kami banyak menghabiskan waktu di mobil, karena perjalanan dari rumah menuju tempat tujuan cukup jauh.

            Sebelum sampai tujuan, kami sempat mampir dahulu ke tempat proses pembuatan white coffe. Kami diajak melihat proses pembuatan white coffe mulai dari mengsangrai biji kopi sampai menumbuknya dan melihat langsung binatang Luwak yang menghasilkan biji kopi siap untuk diolah menjadi white coffe. Kami juga mengunjungi pusat oleh-oleh Joger untuk memilah dan memilih kaos yang cukup terkenal nyentrik, hehe.

            Hal yang sangat menyenangkan adalah, perjalanan Kintamani-Begudul hampir sama dengan perjalanan Bukittinggi-Maninjau. Kemiripan itu membuat saya merasa bisa melepas kangen dengan Maninjau yang batal saya kunjungi tahun ini. Kondisi jalan yang berkelok-kelok, pemandangan yang asri, serta di sekeliling jalan banyak monyet berkeliaran, benar-benar seperti melewati kelok 44.

Tidak hanya itu, setelah sampai di sana, saya bisa melihat danau yang di tengahnya terdapat pura. Istimewa sekali karena biasanya hanya bisa saya lihat di TV, subhanallah banget bisa melihat langsung (bener-bener indah). Tempat tersebut namanya Ulun Danu Beratan, sering juga disebut dengan danau Begudul. Danau tersebut airnya jernih dan terlihat sejuk (jadi kangen mandi di danau). Ketika kami di sana sedang ada upacara karena baru saja ada yang meninggal.

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan diri untuk makan dengan latar belakang Gunung Batur yang eksotis (kelihatan gundul dan gersang) jadi lekukan gunungnya kelihatan. Selain itu, hal yang bikineksotis’ adalah makanan beserta harganya. Ciamik sekali satu porsi harganya kalau standar biaya makan anak kos bisa untuk makan seminggu diselingi puasaDaud.

Melanjutkan perjalanan dari Bedugul-Ubud. Pemandangan masih tampak sama, sangat asri dengan hijaunya pohon-pohon di sekeliling jalan. Waktu kami di Ubud ini tidak banyak, jadi cuma mampir sebentar dan saya masih penasaran dengan Ubud (diam-diam saya berdoa agar suatu saat dapat menikmati indahnya bermalam di Ubud,amiin). Dengan kesenian yang dimilikinya, Ubud menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk menghabiskan waktu dan berlama-lama di Ubud.

            Perjalanan dan liburan yang sangat mengesankan. Saya mendapat banyak pelajaran. Salah satu pelajaran yang selalu saya ingat, yaitu rasa bersyukur masyarakat Bali yang sangat tinggi. Kata Pakde Farid, setiap kali masyarakat Bali mendapat rezeki mereka langsung sembahyang di pura masing-masing. Bahkan di sawah atau di jalan pun, masyarakat Bali memiliki pura. Mungkin karena masyarakat Bali rajin bersyukur, maka jarang terjadi bencana di Bali yang diakibatkan oleh alam. Bali juga dianugerahi kekayaan dan keindahan alam yang menjadi tujuan wisata dunia.

Dalam hal kebudayaan mereka sangat teguh menjaga dan melestarikan adat istiadat. Tidak lupajuga, di Bali sangat terasa asri karena banyak terdapat pepohonan di sepanjang jalan. Berada di Bali, kami tidak merasa terganggu oleh baliho-baliho dan kawan-kawannya. Pemasangan media beriklan di sana teratur. Saya hanya sedikit menemukan pemasangan iklan-iklan yang dipaku di pohon (tidak seperti di Jogja). Pokoknya TOP deh

Oke, sudah waktunya meninggalkan Bali meski masih ingin berlama-lama tinggal. Kepulangan kami diwarnai dengan aksi tidak mandi. Sungguh, rombongan kami kecuali Bunda Ayik tidak mandi. Penyebabnya adalah karena susah bangun dan takut ketinggalan pesawat (karena menggunakan penerbangan kedua). Tapi tidak apa-apa, toh tidak ada yang tahu kok kalau kami belum mand, hehe. Bye bye Bali, kami akan sangat merindukanmu…..

            Oh iya, satu lagi! Di Bali saya juga puas ketemu  Rubicon yang super duper kece! Hehe, mmuahJ. @ikawe_duss










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)